Press Release

MENJAMURKAN BUDIDAYA DAN OLAHAN JAMUR

 


 

Denpasar - Pelatihan Kewirausahaan Budidaya, dan Olahan Jamur sukses digelar pada Sabtu (23/03) di Banjar Tegeh Sari, Gatot Subroto, Denpasar. Peserta 50 orang berasal dari kelompok PKK, Petugas Bank Sampah, Pengurus Balita dan Lansia, Muda-Mudi,  Pengurus Yayasan Tegeh Sari. Pelatihan ini merupakan kelanjutan serangkaian pelatihan kewirausahaan hasil kolaborasi PPLH Bali dengan Diageo Indonesia. Sebelumnya sudah terselenggara pelatihan kewirausahaan mol dan kompos di Karangasem, Klungkung dan Gianyar, dan masih akan ada pelatihan kewirausahaan lainnya dengan topik yang berbeda.
 
Dengan kepercayaan jamur memiliki nutrisi tinggi sebagai pangan maupun pengobatan, Bapak Ketut Widiasa selaku Ketua Yayasan Tegeh Sari menyambut penyelenggara dan partisipan. “Saat ini kita tidak perlu mengejar ilmu sampai ke negeri Cina, pelatihan sudah mudah didapat seperti yang dilakukan PPLH ini. Harapannya peserta dapat memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya. Setidaknya, bisa jadi pangan sehat untuk keluarga maupun peluang bisnis skala rumah tangga”, begitu menurutnya.
 
Ibu Catur Yudha Hariani selaku direktur PPLH Bali menyampaikan, “Kegiatan pelatihan kewirausahaan ini sebenarnya banyak tema di antaranya kompos, herbal, sabun eco enzym,  tepung singkong, budidaya maggot, dan budidaya jamur. Target pelatihan ini untuk kelompok perempuan, anak muda, dan pegiat sampah sebanyak 600 orang di seluruh Bali. Harapannya setelah pelatihan muncul wirausahawan baru”.  
 
Ni Wayan Purnami Rusadi adalah narasumber hari ini. Beliau seorang dosen dan sekaligus pengusaha merk Bee Jamur di Denpasar. Perempuan muda yang biasa dipanggil Mbak Emick ini bermula dari mengikuti pelatihan budidaya, dan wirausaha jamur di karang tarunanya. Tidak disangka, langkahnya justru mengaktifkan kembali karang tarunanya sekaligus membawanya ke Cina dan Italia untuk belajar budidaya lebih lanjut. 
 
Sebelum pemberian materi oleh narasumber, peserta diberikan kuis dengan pertanyaan seputar jamur. Hasilnya 94% partisipan mengenal jenis-jenis jamur. Berbanding terbalik dengan upaya untuk membudidayakannya. Hampir seluruh partisipan yang hadir tidak pernah usaha budidaya jamur. Hanya ada 5 dari seluruh partisipan yang hadir yang pernah melakukannya, namun akhirnya berhenti. “Pernah budidaya jamur di kebun tapi berhenti karena kesulitan dengan habitatnya yang harus lembab, dan keberadaan hama tikus”, keluh Ibu Luh Sudiani dari Kader Posyandu Tegeh Sari kepada Mbak Emick. 
 
Mbak Emick kemudian menyajikan materinya mulai persiapan budidaya dengan riset dan investigasi lokasi, kumbung jamur, menyiapkan bibit dan media, masa produksi, perawatan, proses panen dan pengolahan jamur. Rasa penasaran tidak bisa dibendung karena banyak sekali peserta yang bertanya. Bapak Ketut bertanya, “Bagaimana sebaiknya meletakan baglog ya? Apakah posisi tidur atau berdiri? Lalu, giliran Pak Putu yang bertanya “Bagaimana mendapatkan baglog dan bagaimana pemasaran? “Jika lahan 1 meter kira-kira berapa banyak baglog yang dibutuhkan?”, tanya Pak Gede tidak mau kalah. Tidak hanya itu, sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan dari peserta lainnya.
 
Inti penjelasan Mbak Emick, budidaya jamur tergolong sederhana. Pertama yang perlu dilakukan adalah menyiapkan baglog dari sampah gergaji kayu albesia yang dicampur dengan bibit jamur. Kemudian, menyimpan di kumbung atau area rumah yang lembab. Cukup melakukan penyiraman dengan cara disemprot sekali sehari. Jika jamur sudah memenuhi baglog, bagian penutupnya bisa dibuka. Lalu, plastik pembungkus baglog, bagian depan, kanan, dan kirinya disobek sebagai jalur tumbuhnya jamur nanti. Bahkan setelah selesai dipanen pada bulan ketiga, serbuk kayu pada baglog bisa dimanfaatkan sebagai kompos. Setelah pelatihan ini peserta bisa latihan di rumah, karena panitia menyiapkan baglog untuk dibawa pulang.
 
Soal pemasaran saat ini sangat terbuka pasar mulai dari warung vegetarian, kios jamur krispi, dan bisa kerjasama dengan petani baglog. Jika tekun dan sabar dalam melakukan budidaya jamur, niscaya akan memberikan keuntungan. Mbak Emick juga memberikan sejumlah tips. Jika panen berlebihan bisa menghadiahi orang terdekat jamur segar maupun berinovasi dalam pengolahannya menjadi keripik, nugget, bakso, dan lainnya yang mempunyai masa simpan lebih panjang. 

 

Bahan-bahan:

Jamur tiram 250 gram. 
Tempe 160 gram.
Tepung tapioka 100 gram.
Tepung terigu 60 gram. 
Bawang merah goreng 2 siung. 
Bawang putih goreng 2 siung.
Telur ayam 1 butir
Kaldu bubuk 1 sdm. 
Merica bubuk 1 sdm. 
Garam 1 sdm
 

 

Cara memasak:

1. Cuci bersih jamur tiram. Kemudian, kukus jamur tiram, dan tempe kurang lebih 20 menit. Setelah itu, angkat, dan tiriskan sekitar 5 menit. 
2. Peras jamur hingga airnya ke luar maksimal, dan tempe dipotong kecil-kecil. 
3. Masukan jamur, tempe, bawang merah goreng, bawang putih goreng, kaldu bubuk, merica bubuk, garam, dan telor ke dalam blender/chopper sampai halus. 
4. Adonan yang sudah halus dicampurkan dengan tepung tapioka, dan tepung terigu. Kemudian, diaduk hingga merata. 
5. Bentuk adonan menjadi bola-bola. Sebelumnya, tangan jangan lupa dioleskan minyak sayur agar tidak lengket. Kurang lebih akan menghasilkan 43 bola-bola bakso dari adonan ini. 
6. Adonan direbus kurang lebih 20 menit. 
7. Bakso siap untuk dihidangkan. Bisa ditambahkan bahan pendukung seperti mie, bawang goreng, seledri, dan daun bawang. 

 

Subscribe email untuk mendapatkan informasi terbaru dari kami

 *